NIAS, bhayangkarapos.com – Memasuki hari ke-22 pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 TA 2026, suasana di lapangan bukan lagi tentang persiapan, melainkan akselerasi. Di sebuah area terbuka dengan latar belakang kendaraan operasional dan hamparan rumput liar, Dandim 0213/Nias Letkol Inf Indra Rukmana, S.H., selaku Dansatgas, berdiri tegap memegang folder bermotif tenun khas Nias, memberikan penekanan langsung kepada puluhan personel Satgas yang berbaris rapi dalam formasi apel. Momen ini bukan sekadar seremonial; ia adalah deklarasi komitmen bahwa target penyelesaian tepat waktu adalah harga mati, didukung oleh progres nyata di seluruh titik sasaran: RTLH, MCK, rumah ibadah, dan pembukaan jalan.
“Kami sangat optimistis setiap kegiatan sasaran akan terselesaikan tepat waktu. Namun, optimisme ini harus dibayar dengan keringat dan ketelitian di lapangan,” tegas Letkol Inf Indra Rukmana. Ia menekankan bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan kualitas. Setiap personel diminta bekerja maksimal, namun tetap memastikan bahwa hasil pembangunan—baik fisik maupun nonfisik—memenuhi standar ketahanan dan manfaat jangka panjang. Sinergi dengan masyarakat, menurutnya, adalah bahan bakar utama yang membuat target ambisius ini realistis.
Kehadiran Dansatgas yang memimpin apel secara langsung di tengah personel membuktikan bahwa kepemimpinan TMMD bersifat hands-on dan akuntabel. Ketika seorang komandan berbicara di hadapan pasukannya dengan folder adat di tangan, ia sedang menyatukan disiplin militer dengan kearifan lokal—pesan bahwa TNI hadir bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai mitra pembangunan yang menghormati budaya setempat. Warisan TMMD ke-130 di Nias kelak tidak hanya berupa infrastruktur yang selesai tepat waktu, tetapi juga kepercayaan publik bahwa Tentara Nasional Indonesia adalah institusi yang menepati janji, dipimpin oleh komandan yang berani berdiri di garis depan, dan diwujudkan oleh prajurit-prajurit yang mengubah optimisme menjadi beton, kayu, dan aspal yang kokoh.
