NIAS, bhayangkarapos.com – Di sebuah balai terbuka beratap daun di Desa Huno, Kecamatan Somolo Molo, Rabu (4/11/2026), tidak ada meja rapat mewah atau proyektor presentasi. Yang ada hanyalah sekelompok prajurit berseragam loreng duduk melingkar di atas kursi plastik biru, mendengarkan arahan tegas dari Danramil 02/Gido Kapten Inf Maulana Yahya. Dalam kegiatan penekanan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 TA 2026 ini, Kapten Inf Maulana Yahya—yang mewakili Dandim 0213/Nias—menyampaikan pesan kunci di tengah hembusan angin desa: keberhasilan TMMD tidak diukur dari angka persentase di laporan, melainkan dari ketahanan bangunan dan senyum kepuasan warga puluhan tahun kelak.
“Kita tidak sedang mengejar target administratif. Kita sedang membangun warisan. Setiap paku yang kalian tancapkan, setiap semen yang kalian aduk, harus berkualitas karena ini akan dipakai anak-cucu masyarakat Nias,” tegas Kapten Inf Maulana Yahya di hadapan personel Satgas. Ia menekankan bahwa disiplin dan kekompakan bukan hanya soal baris-berbaris, tetapi soal ketelitian dalam bekerja dan kehangatan dalam berkomunikasi dengan warga. “Jangan sampai rumah selesai tapi hati warga tersinggung. Koordinasi dengan masyarakat adalah bagian dari kualitas pekerjaan itu sendiri,” tambahnya.
Kehadiran Danramil langsung di lokasi sasaran—bukan dari belakang meja—membuktikan bahwa kepemimpinan TMMD bersifat partisipatif dan membumi. Ketika seorang perwira duduk bersama anak buahnya di bawah atap sederhana, ia sedang mengajarkan bahwa komando tertinggi dalam TMMD adalah kerendahan hati dan tanggung jawab moral. Arahan ini bukan sekadar instruksi teknis, melainkan penyegaran semangat bahwa setiap personel adalah duta institusi yang wajahnya menjadi cerminan TNI di mata rakyat. Warisan TMMD ke-130 di Nias kelak tidak hanya berupa infrastruktur fisik yang kokoh, tetapi juga budaya kerja unggul yang lahir dari arahan jantan di tengah alam—simbol abadi bahwa Tentara Nasional Indonesia memimpin dengan contoh, bukan hanya perintah.
