Jakarta, bhayangkarapos.com – TNI Angkatan Udara terus memperkuat kemampuan evakuasi medis udara melalui Kontainer Medik Udara (KMU), fasilitas kesehatan yang memungkinkan pasien dengan kondisi kritis memperoleh pemantauan dan perawatan intensif selama penerbangan menuju rumah sakit rujukan.
Kemampuan tersebut dipaparkan Direktur Pembinaan Dukungan Kesehatan (Dirbindukes) Pusat Kesehatan TNI AU (Puskesau) Kolonel Kes Dr. Yanuar Tirtajaya, Sp.OG., kepada Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., FISR., dalam peninjauan fasilitas medik udara di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
KMU dirancang untuk mendukung pemindahan pasien yang membutuhkan penanganan medis berkelanjutan selama penerbangan. Fasilitas ini dilengkapi tempat tidur pasien, ventilator, defibrillator, perangkat suplai oksigen, serta infusion pump untuk mengatur pemberian cairan infus. Sistem kelistrikan dan suplai oksigen juga terintegrasi guna mendukung pengoperasian peralatan medis selama penerbangan.
Dalam pelaksanaannya, evakuasi medis udara melibatkan awak pesawat, dokter dan perawat sebagai tim medis penerbangan, serta personel teknis yang memastikan kesiapan peralatan. Dokter penerbangan berperan melakukan triase, menilai kelayakan pasien untuk diterbangkan, serta memantau kondisi pasien selama perjalanan. Aspek keselamatan turut menjadi perhatian, terutama dalam mengantisipasi dampak perubahan tekanan udara, kebutuhan oksigen, dan turbulensi terhadap kondisi pasien.
Saat ini, TNI AU memiliki dua unit KMU yang ditempatkan di Lanud Halim Perdanakusuma dan Lanud Hasanuddin, Makassar. Kedua unit tersebut dirancang untuk diintegrasikan dengan pesawat C-130. Sementara itu, penyiapan KMU untuk mendukung pengoperasian pesawat A400M juga tengah dilakukan guna memperluas dukungan evakuasi medis udara.
Selain mendukung evakuasi pasien kritis, KMU memiliki potensi pemanfaatan dalam pelaksanaan operasi militer selain perang (OMSP), khususnya penanganan bencana alam dan keadaan darurat medis yang membutuhkan pemindahan pasien secara cepat. Dalam kondisi tertentu, fasilitas ini juga dapat disiapkan untuk mendukung pelayanan medis di darat sesuai kebutuhan dan kesiapan peralatan.
Untuk menjaga kesiapan operasional, KMU menjalani pemeliharaan berkala dengan sasaran kesiapan penggunaan dalam waktu kurang dari dua jam ketika dibutuhkan. Ke depan, pengembangan kemampuan juga diarahkan pada kemungkinan integrasi telemedisin agar tim medis selama penerbangan dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis di darat.
Melalui KMU, TNI AU tidak hanya menyediakan sarana transportasi udara bagi pasien, tetapi juga menghadirkan dukungan perawatan medis selama perjalanan. Kemampuan ini menjadi bagian dari komitmen TNI AU dalam memperkuat dukungan kesehatan udara serta membantu menyelamatkan jiwa melalui pelaksanaan tugas operasi dan misi kemanusiaan.
Turut hadir, Kapuskesau, Asops Kasau, Kadispenau, Aslog Kaskoopsudnas, Danlanud Halim, Dangrup 2 Heli Koopsau.
Sementara itu turut mendampingi Wamenkes, Dirjen SDMK Kemenkes dr. Yuli Farianti, M.Epid., Dirjen Keslan Kemenkes dr. Azhar Jaya, S.H., SKM, MARS., Dirjen Kesprimkom Kemenkes dr. Maria Endang Sumiwi, MPH.
