Pasis Seskoad Perkuat Edukasi dan Aksi Nyata Penanganan Karhutla di Lampung

Berita, TNI, TNI AU2 Dilihat

 

 

LAMPUNG TIMUR – bhayangkarapos.com

Perwira Siswa (Pasis) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Dikreg LXVIII memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di wilayah terdampak Karhutla di Provinsi Lampung.

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pendidikan yang mengasah kemampuan Pasis dalam memahami persoalan nyata di lapangan sekaligus merumuskan solusi bagi masyarakat.

 

Kegiatan yang dipimpin Kolonel Inf. Hasroel Tamin tersebut melibatkan 14 Pasis Seskoad dan berlangsung selama 10 hari mulai 28 Agustus hingga 6 September 2026. KKL dilaksanakan di tiga provinsi terdampak Karhutla, yakni Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung. Khusus Lampung, kegiatan menyasar lima wilayah, yaitu Kota Metro, Lampung Timur, Lampung Barat, Way Kanan, dan Tanggamus.

 

Di Lampung Timur, Pasis melaksanakan KKL Wilayah Pertahanan (Wilhan) di Kodim 0429/Lampung Timur selama lima hari. Selain mengumpulkan data lapangan, Pasis turun langsung memberikan edukasi dan berdiskusi dengan masyarakat di wilayah Koramil 429-05/Sukadana dan Desa Rantau Jaya Udik 2. Pasis juga berdialog dengan tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, serta komunitas guna menggali kondisi dan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi Karhutla.

 

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, Karhutla telah terjadi di Desa Braja Harjo Sari, Braja Kencana, Rantau Jaya, Karanganyar, Toto Projo, Rantau Jaya Udik, Tambah Dadi, dan Labuhan Ratu, dengan total luasan terdampak mencapai 1.721,23 hektare. Kondisi tersebut menjadi bahan penting bagi Pasis untuk menganalisis karakteristik ancaman dan kebutuhan penanganan Karhutla di wilayah Lampung Timur.

 

Dari interaksi langsung dengan masyarakat, muncul masukan bahwa penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan penyuluhan. Masyarakat membutuhkan aksi nyata dan kesiapan sarana pemadaman. Kepala Desa Toto Projo mengusulkan agar lokasi yang sering terjadi kebakaran dilengkapi sumur bor dan selang, sehingga proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat dan efektif ketika terjadi kebakaran.

 

Berbagai masukan tersebut menjadi bahan analisis para Pasis dalam menyusun rekomendasi penanganan Karhutla yang lebih aplikatif. Dengan turun langsung ke lapangan, Pasis tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga melihat kondisi faktual, mendengar kebutuhan masyarakat, serta mengidentifikasi solusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

 

Kehadiran Pasis juga mendapat apresiasi dari masyarakat, komunitas, dan Forkopimda Lampung Timur. Apresiasi diberikan karena para Pasis dinilai tidak hanya melaksanakan tugas pendidikan, tetapi turut berinteraksi dan bekerja bersama masyarakat. Di sela kegiatan, Pasis bahkan terlibat dalam aksi sosial membersihkan tempat ibadah dan masjid bersama warga sebagai wujud umat yang berketuhanan serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat

 

Untuk memperkuat pemahaman terhadap pola penanganan Karhutla, Pasis Seskoad juga melakukan audiensi dan koordinasi dengan BPBD, Polres Lampung Timur, serta Bupati Lampung Timur. Selain KKL Wilhan, Pasis melaksanakan KKL Pembinaan Satuan (Binsat) di Yonif TP 943/DPC selama lima hari, yang juga diisi dengan penyuluhan dan diskusi bersama masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas.

 

Kegiatan KKL tersebut menempatkan Pasis Seskoad sebagai calon pemimpin TNI AD yang dituntut mampu memahami persoalan secara menyeluruh, membangun komunikasi lintas sektor, menganalisis kondisi wilayah, serta merumuskan pemecahan masalah. Data, masukan, dan pengalaman yang diperoleh dari lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan kepemimpinan dan pengambilan keputusan para Pasis.

 

Melalui KKL ini, pendidikan Seskoad diarahkan tidak hanya menghasilkan perwira yang kuat secara teori, tetapi juga mampu turun langsung, mendengar persoalan rakyat, dan menghadirkan solusi nyata. Kolaborasi Pasis Seskoad bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, komunitas, tokoh masyarakat, dan warga diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan serta membangun upaya pencegahan dan penanganan Karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *