Rawat Gagasan Baik, Wahdi Ajak Lanjutkan Semangat GEMERLANG

Opini27 Dilihat

Bhayangkarapos.com

METRO – Gerakan Generasi Emas Metro Cemerlang GEMERLANG yang dicanangkan di Kota Metro sejak 2021 hingga Februari 2025 dinilai bukan sekadar slogan pemerintahan, melainkan bagian dari gagasan strategis pembangunan sumber daya manusia dalam mewujudkan visi Kota Metro sebagai Kota Pendidikan sekaligus mengambil bagian dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Namun, memasuki 2025, nama dan semangat GEMERLANG dinilai mulai menghilang dari narasi pembangunan daerah. Kondisi tersebut mendapat perhatian dari mantan Wali Kota Metro, Dr. dr. Drs. Med. H. Wahdi Siradjuddin, Sp.OG (K)., S.H., M.H.

Menurut Wahdi, hilangnya sebuah gerakan yang telah dibangun dengan orientasi jangka panjang merupakan sesuatu yang patut disayangkan. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program, tetapi kesinambungan gagasan dalam membangun kualitas manusia Kota Metro.

Wahdi menegaskan, GEMERLANG tidak semestinya dipandang hanya sebagai nama atau identitas pemerintahan pada suatu periode. Lebih dari itu, GEMERLANG merupakan gagasan pembangunan yang menempatkan pendidikan, anak, dan generasi muda sebagai fondasi utama masa depan daerah.

Semangat tersebut bahkan telah diwujudkan dalam berbagai simbol pembangunan, di antaranya Tugu PENA dan Tugu GEMERLANG, yang menjadi penanda komitmen Kota Metro terhadap pembangunan generasi penerus.

Karena itu, menurut Wahdi, simbol-simbol tersebut semestinya tidak berhenti sebagai monumen fisik, tetapi terus dihidupkan melalui kebijakan dan gerakan nyata. Kondisi sejumlah tugu yang disebut mulai kurang terawat dan ditumbuhi rumput bahkan dinilai dapat menjadi metafora tentang pentingnya merawat kembali semangat yang pernah dibangun.

“Jangan sampai simbolnya masih berdiri, tetapi semangat dan gagasan yang melahirkannya justru hilang. GEMERLANG harus dipahami sebagai investasi sumber daya manusia untuk masa depan, bukan sekadar nama sebuah program pemerintahan,” tegasnya.

Wahdi menilai, pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, pergantian pemimpin tidak semestinya otomatis memutus gagasan pembangunan yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

“Pergantian kepemimpinan seharusnya tidak berarti terputusnya cita-cita pembangunan. Pemimpin yang visioner memahami bahwa gagasan besar yang menyangkut kepentingan masyarakat dan masa depan generasi tidak boleh hilang hanya karena berganti pemerintahan,” katanya.

Menurutnya, pembangunan membutuhkan kesinambungan arah. Indonesia Emas 2045 merupakan cita-cita jangka panjang yang tidak mungkin dicapai melalui program yang hanya berorientasi pada satu periode kepemimpinan.

“Program yang baik tidak harus dihentikan hanya karena bukan lahir dari periode kepemimpinan sekarang. Yang terpenting adalah manfaatnya bagi masyarakat. Kalau baik, lanjutkan. Kalau kurang, perbaiki. Kalau perlu inovasi, kembangkan,” ujarnya.

Wahdi juga menekankan pentingnya membangun peta jalan pembangunan yang berkesinambungan, mulai dari desa, wilayah pinggiran, komunitas, hingga pusat pemerintahan. Ia mencontohkan gerakan JAMAPAI di Provinsi Lampung yang mengangkat semangat kearifan lokal Beguai Jejama, serta capaian Lampung yang meraih Juara I Lomba PAKIAS pada Juli 2025.

“Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan sendirian. Ketika masyarakat bergerak bersama, ketika kearifan lokal dijadikan kekuatan, maka pembangunan memiliki energi sosial yang jauh lebih besar,” katanya.

Bagi Wahdi, ukuran kepemimpinan bukan semata-mata seberapa banyak gagasan baru yang dilahirkan, tetapi juga seberapa mampu seorang pemimpin menemukan, merawat, mengembangkan, dan meneruskan gagasan baik yang telah tumbuh sebelumnya.

“Pemimpin tidak harus mengklaim seluruh gagasan sebagai miliknya. Pemimpin yang besar justru mampu menemukan, merawat, mengembangkan, dan menyambung berbagai gagasan baik yang tumbuh sebelumnya maupun di tengah masyarakat,” tegasnya.

Pada akhirnya, Wahdi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendorong lahirnya kepemimpinan yang visioner, terbuka, kolaboratif, dan memiliki kemampuan melihat pembangunan dalam perspektif jangka panjang.

“Semangat GEMERLANG harus kembali ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun kualitas generasi Kota Metro. GEMERLANG bukan milik satu periode pemerintahan. GEMERLANG adalah semangat untuk menyiapkan generasi masa depan,” pungkasnya.

Opini ini disampaikan atas nama pemikiran dan sorotan publik Dr. dr. Drs. Med. H. Wahdi Siradjuddin, Sp.OG (K)., S.H., M.H., Mantan Wali Kota Metro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *