Nias,bhayangkarapos.com – Kehangatan kemanunggalan TNI-Rakyat terpancar jelas di sebuah ruang tamu ber dinding kayu pada Minggu malam (1/11/2026). Di sela kesibukan pembangunan fisik program TMMD ke-130 TA 2026 Kodim 0213/Nias, Serda Ridho Satria—personel Batalyon TP/903 Baluseda yang tinggal di rumah Bapak Aliyunus Waruwu—memilih menghabiskan waktu luangnya bukan untuk beristirahat, melainkan mendampingi Butet, putri bungsu keluarga asuhnya, mengerjakan pekerjaan rumah. Dokumentasi kegiatan menampilkan suasana intim di mana prajurit berseragam loreng duduk telanjang kaki di kursi kayu sederhana, membungkuk fokus menunjuk lembaran buku di atas meja panjang kayu, sementara Butet dalam baju pink条纹 terlihat serius menyimak penjelasan. Latar belakang pintu kayu terbuka dan rak penyimpanan minimalis menegaskan bahwa pendidikan tidak memerlukan fasilitas mewah, melainkan kehadiran tulus dan ketulusan pendamping di tengah keterbatasan.
Serda Ridho Satria menjelaskan bahwa momen belajar bersama ini adalah rutinitas sukarela yang lahir dari rasa memiliki terhadap keluarga asuh. “Butet ini merupakan anak dari orang tua asuh kami. Jadi, sebelum istirahat malam, kami menyempatkan diri untuk melihat pekerjaan rumahnya sekaligus membantu dan mengajarinya belajar,” ujarnya. Ia menekankan bahwa keakraban yang terbangun selama tinggal di rumah warga telah mengubah hubungan tentara-warga menjadi ikatan kekeluargaan yang nyata. Ketika personel TNI meluangkan waktu untuk memastikan anak-anak desa memahami pelajaran, mereka sedang menanamkan benih harapan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan—sebuah pesan yang lebih kuat daripada sekadar bantuan material.
Kegiatan pendampingan belajar di rumah Bapak Aliyunus Waruwu merupakan manifestasi dari filosofi TMMD yang holistik: membangun manusia seutuhnya, bukan hanya infrastruktur fisiknya. Kehadiran Satgas TMMD di tengah masyarakat tidak hanya diukur dari meteran jalan atau jumlah rumah yang direnovasi, tetapi juga dari cahaya pengetahuan yang menyala di mata anak-anak asuh setiap malam. Warisan kemanunggalan di sini tidak hanya berupa dinding kayu yang kokoh, tetapi juga ikatan persaudaraan yang diperkuat melalui keringat bersama dan dedikasi tulus demi masa depan generasi muda Nias yang lebih cerah.
